another one pill


Hihihi… agak bingung sendiri sama judulnya….

Dari dulu saya paling tidak suka kalau disuruh makan obat. Menurutku itu hanya akan membuat antibodi dalam tubuh tidak bekerja dengan baik dan tubuh akan jadi manja.
Biasanya saya suka seperti berbicara sendiri dan mengancam penyakitnya, “memangnya bisa sesakit apa sih?”
dan walaupun kadang dengan sangat terpaksa akhirnya makan obat juga, itu pasti setelah perjuangan sekuat tenaga menahan sakit –dan setelah sakitnya berhenti, rada menyesal juga kenapa tidak daritadi makan obatnya–

Tapi memang, obat-obatan kimia selalu jadi pilihan terakhir saya. Kalau pilek, saya memilih makan “Sop Saudara” panas-panas. Menghirup aroma rempahnya bikin enakan. Kalau sakit mata, pilihannya jatuh ke bawang putih yang diiris dan dioleskan di bawah kelopak mata. Kalau sedang haid dan tiba-tiba merasa agak pusing, “Coto Makassar” lah pilihan utamanya. Kalau sakit kepala, saya memilih cuci piring… 😀 entah karena apa, semua pengobatan alternatif itu ampuh bin manjur pada saya.

Tapi kali ini beda. Ini adalah hari ke-7 saya mengkonsumsi obat ini. Namanya Lutenyl.
Belum sempat googling baik-baik sih, tapi kalo tidak salah obat ini intinya adalah memberikan hormon tambahan sehingga haid bisa ditunda. Ya ini demi perjalanan umrahku…
Sebenarnya banyak obat serupa, tapi dokter langganan ku yang cantik itu menyarankan obat ini dengan pertimbangan karena obat ini hanya dikonsumsi sekali sehari, sehingga saya tidak terlalu repot nantinya. Karena obat semacam ini harus diminum pada waktu yang sama setiap hari, jadi kalau obat yang sekali sehari artinya harus dikonsumsi setiap 24 jam. Kalau hari pertama minumnya jam 9 malam, maka hari-hari selanjutnya juga harus minum jam 9 malam.

Tapi ingat, setiap 24 jam itu waktu tubuh, bukan waktu setempat. Maksudnya, ketika sedang mengkonsumsi obat ini dalam perjalanan, perhatikan juga zona waktu daerah setempat. Jangan sampai minum obat jam 9 malam waktu Ambon, lalu besoknya melakukan perjalanan ke Jakarta dan menunggu jam 9 malam lagi untuk minum obat padahal harusnya diminum jam 7 malam waktu Jakarta.

Maka mulailah saya melakukan perhitungan halah. Karena Makassar masuk dalam zona GMT+8, sedang Mekkah dan Madinah GMT+3, berarti ada perbedaan waktu 5 jam. Jadi selama masih di Makassar, saya mengkonsumsi obat ini setiap jam 3 malam, dengan pertimbangan bahwa setibanya di Mekkah dan Madinah nanti saya akan mengkonsumsinya pada jam 10 malam, itu berarti setelah makan malam dan saat bersiap untuk tidur. Cerdas yah?

Dan saking rajinnya saya bangun jam 3 malam hanya sekedar untuk makan obat, sampai-sampai saya hampir tidak butuh alarm lagi….

UPDATE :

Maka demikianlah, saya mengkonsumsi obat ini selama 21 hari. Tidak ada efek samping berarti. Hanya saja sempat terasa agak sakit kepala tapi bisa diatasi dengan obat sakit kepala.
Lima hari setelah konsumsi obat terakhir, saya kembali haid tapi kali ini agak lama, yakni 10 hari.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *