Skip to content

Aruna Dan Lidahnya : Mengecap Rasa Dengan Cinta.

Posted in Movie, and Review

WARNING : Jangan nonton kalo lo suka baper, apalagi kalo lagi laper!

Diadaptasi dari novel karya Laksmi Pamuntjak yang berjudul sama, Aruna Dan Lidahnya mengangkat tema yang sepertinya mulai ngetren di dunia perfilman Indonesia, yaitu  kuliner 😍😍😍

Yaelah kalo udah soal makanan, saya baris paling depan lah…

Dan sebelum ngomong panjang lebar, tolong dicatat : FILM INI KEREN!!!

Aruna, diperankan oleh kakakku tercinta Dian Sastrowardoyo yang ya ampun ini orang kapan tuanya sih… kok yah awet gitu, seorang ahli wabah (ternyata profesi ini ada di Indonesia) yang hobi banget makan. Gambaran perempuan impian banget deh, udah cantik, cerdas, suka makan tapi ga gemuk-gemuk. Duh saya banget deh ini… iyaa hobi makannya, bukan Disas nya 😒

Aruna sudah lama naksir Farish (Oka Antara), mantan teman sekantornya dahulu kala. 

Lalu ada Nicolas Saputra yang bermain sebagai Bono, sahabat sekaligus partner makan Aruna, chef profesional kelas internasional. Cakep, jago masak. Duuuuh! 

Peran Bono dipasangkan dengan Nadezhda (Hannah Al Rashid) atau yang lebih sering dipanggil Nad, penulis buku kuliner terkenal.

Keempatnya dikumpulkan dalam suatu perjalanan yang bermula ketika Aruna ditugaskan untuk melakukan investigasi wabah flu burung di sejumlah kota. Tugas datang bersamaan dengan rencana Aruna dan Bono untuk liburan sambil mencari ide masakan baru untuk restoran Bono. Bono mengajak Nad, sementara Farish bergabung dalam tugas bersama Aruna. Jadilah mereka kerja sambil wisata kulineran.

Berbeda dengan novelnya yang menceritakan delapan kota, di versi film ini hanya lima kota yg diangkat ke dalam cerita yaitu Jakarta, Surabaya, Pontianak, Pamekasan, Singkawan. 

Dan hadohh ini pelem asli bikin lapar deh. Semua makanan disajikan dalam pengambilan gambar yang bikin ngiler 😭

Bukan itu saja, film ini juga memberi kita wawasan baru tentang masakan-masakan khas tiap kota yang ditampilkan. Ada rawon Surabaya, campur lorjuk Madura, pengkang Pontianak, dan choi pan Singkawang.

Di sisi lain, film ini sebenarnya pun menyorot tentang perilaku koruptor yang memanipulasi rakyat kecil demi tujuan busuk mereka. Dan film ini cukuplah memberi kita gambaran begini loh salah satu modus koruptor bejat itu. Kesel ih!

Dan tanpa sadar, sepanjang film ini kita akan diajari bagaimana seharusnya kita memaknai hidup. Memaknai orang-orang yang hadir dalam kehidupan kita. Memaknai peristiwa-peristiwa kecil yang mungkin terlihat remeh temeh. Memaknai semua rasa dan logika.

Oiya, lihatlah bagaimana pelem ini mengemas komedi dengan “elegan”. Ga perlu dialog ga jelas ato ngomong ngalor ngidul macam peserta kontes lucu-lucuan -yang entah di mana lucunya- itu…

Permainan ekspresi yang kuat menandakan level akting para pemainnya yang memang adalah aktor dan aktris papan atas. Mereka lirik-lirikan aja udah bisa bikin ketawa 😅

Kisah romansa tentu saja tetap mendominasi. 

Konflik hubungan persahabatan, percintaan, pengkhianatan ditampilkan dengan sangat ringan dan menghibur. Ceritanya ga muluk-muluk, sangat dekat dengan realita di sekeliling kita. 

Film ini sepertinya menarget penonton usia 30an, di mana kehidupan asmara bukan lagi sekedar gombalan sok perhatian atau chit chat mesra manja ga jelas khas abg. Di film ini, urusan asmara adalah tentang pola pikir yang “open mind”.

Dan pasangan Dian Sastro – Nicholas Saputra yang menjadi sahabat baik di pelem ini asli bikin gemessss. 

Well, setelah ini, saya cukup yakin orang akan mengingat Dian Sastro sebagai Aruna dan Nicolas Saputra sebagai Bono.

Ga ada lagi Cinta dan Rangga!

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *