ATHIRAH, Karena Kecantikan Seorang Istri Itu Bernama Pengabdian 7


athirah_20160905_190137

Karena kecantikan seorang istri adalah kesabarannya, 
Karena kecantikan seorang istri adalah ketulusannya, 
Karena kecantikan seorang istri adalah keikhlasannya, 
Karena kecantikan seorang istri itu bernama PENGABDIAN.

~ Ama ~

Bergegas saya melangkah meninggalkan bioskop. Ada sesak luar biasa yang sedari tadi saya tahan. Dan kali ini tujuan saya satu, tempat sepi untuk menangis. Di dalam taksi, air mata saya pun tumpah.

Athirah, film itu begitu mengganggu pikiran saya. Setelah menontonnya, saya merasa seperti mendapat tamparan keras.

Mungkin tak banyak yang mengenal sosok beliau, perempuan hebat yang melahirkan seorang anak yang kelak menjadi pembesar negeri ini, seorang anak yang diberi nama Muhammad Jusuf Kalla. Ya, Athirah adalah ibunda dari pak JK.

Meski bercerita tentang dinamika keluarga pak JK, film ini benar-benar jauh dari pencitraan pak JK.  Film ini murni menampilkan kisah perjuangan seorang wanita, dengan perannya sebagai istri dan ibu dalam menjaga keluarganya, membesarkan anak-anaknya di tengah kondisi keluarga yang tak selamanya harmonis. Tapi dari kisah inilah kita bisa memahami bagaimana pribadi seorang pembesar negeri dibentuk.

Nama besar Riri Riza dan Mira Lesmana tentu saja menjadi jaminan kualitas film ini, baik dari segi jalan cerita maupun pemilihan karakter pemain. Dan betapapun saya menaruh ekspektasi tinggi, film ini tetap melampaui ekspektasi saya. Mungkin karena jalan cerita yang begitu natural, kisah yang sangat sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, para pemain yang sukses memainkan perannya, lalu disajikan dengan begitu jenius dan mendetail hingga kita lupa bahwa itu adalah sebuah film. Mengambil setting wilayah Sulawesi Selatan paska kemerdekaan Republik Indonesia, film ini pun menyeret kita ke masa lalu.

Kisah dimulai dengan adegan pernikahan dengan adat budaya bugis yang masih sangat kental. Lalu mengisahkan perantauan Athirah dan suaminya, bapak Haji Kalla, ke kota Makassar demi membangun kehidupan yang lebih baik.

Pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Sesuatu yang harus dijaga dengan segenap jiwa raga. Ini adalah pesan pertama yang saya dapatkan dari film ini. Hal ini disimbolkan pada bagaimana Athirah menjaga dengan sepenuh hati sarung sutra yang merupakan mahar pada pernikahannya. Disambungnya kembali jahitan-jahitan yang terlepas dengan sangat hati-hati.

Semua berjalan baik-baik saja, hingga pada suatu ketika Athirah yang kala itu sedang mengandung anak keempatnya menghadapi kenyataan bahwa suaminya berniat menikahi perempuan lain tanpa sepengetahuannya. Sakit hati dan kekecewaan luar biasa tentu saja dirasakan Athirah. Tapi jangan membayangkan adegan teriakan amarah atau tangis histeris bak sinetron. Film ini film “hening”. Minim dialog. Tapi ekspresi para pemain mampu menusuk emosi penonton.  Kita dibuat memaknai sendiri setiap senyuman, helaan nafas kekecewaan, tangisan tanpa suara, hingga mimik wajah para pemainnya.

Keheningan ini memperkuat karakter Athirah sebagai perempuan tegar dan tangguh. Dikhianati sedemikian tidak lantas membuat Athirah meratapi nasibnya. Ia bukan perempuan cengeng. Ia tak boleh terlihat lemah di hadapan anak-anaknya. Ia tahu kodratnya, tahu kewajibannya. Setiap hari, ia memastikan makanan tetap tersaji lengkap di meja makan. Dengan atau tanpa sang kepala keluarga.

Pada adegan meja makan inilah kita bisa melihat bagaimana seorang kepala keluarga adalah raja. Di masyarakat Sulawesi Selatan, budaya ini masih melekat kuat hingga saat ini. Di meja makan, kepala keluarga menempati kursi khusus, alat makannya berbeda dan disimpan tersendiri.

Meski perasaannya terpuruk, Athirah mampu menahan diri untuk tidak meluapkan emosinya, apalagi di depan anak-anaknya. Tapi bukan berarti ia tak bisa bersikap. Ketegasan Athirah digambarkan pada adegan ia meminta suaminya untuk meninggalkan rumah. Adegan yang lagi-lagi tanpa dialog.

Terlahir sebagai putri dari dari istri keempat membuat Athirah sadar sepenuhnya bahwa poligami adalah hak suami. Maka ia tak boleh larut dalam kesedihan. Athirah pun bangkit dan memulai usaha sarung tenun. Kemampuannya mengatur keuangan dengan baik membuat usahanya sukses. Sebuah pelajaran penting bagi para wanita untuk tetap mandiri.

Sosok Athirah adalah wanita yang cerdas dan terhormat. Ia mampu memegang teguh harga diri dan kehormatan keluarganya. Lihatlah bagaimana ia tetap berusaha menampilkan keluarga yang harmonis meski telah terkoyak. Segala upaya ia lakukan demi mempertahankan keluarganya, meski itu berarti mempertaruhkan keimanannya. Tangis diamnya dalam kesendirian sungguh menusuk hati. Tangisan yang mungkin hanya dipahami dengan baik oleh para kaumnya.

Kemarahan yang ia tampilkan dengan begitu anggun dan elegan, pertarungan hati melawan ego, membuatnya menang dengan sempurna ketika ia tetap mampu mengabdi pada suami, pada keluarganya, di saat-saat terburuk yang mereka hadapi.

80 menit bermain dengan perasaan, ending film ini bagi sebagian orang akan terasa menggantung, tapi saya pribadi menyukai “open ending” seperti itu. Membuat kita menerawang sendiri bagaimana kelanjutannya. Membuat kisahnya hidup lebih lama dalam pikiran kita.

Spoiler :

~ Siap-siap ngiler, karena adegan di meja makan yang hampir mendominasi menampilkan makanan-makanan khas rumahan yang akan membuat kita selalu kangen masakan mama 😀


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 thoughts on “ATHIRAH, Karena Kecantikan Seorang Istri Itu Bernama Pengabdian