Skip to content

cerpen? based on true story?

Posted in Uncategorized

“Pa…” wanita itu kembali memanggil. Kali ini untuk yang ke delapan kalinya. Nadanya pun mulai terdengar tak sabaran. Mungkin sudah lebih dari 5 menit ia berdiri di pintu itu. Memandang lelaki yang terus saja membelakanginya.

Ya, ada apa sayang..?” lelaki itu menjawab. Seperti biasanya, lembut dan selalu memakai kata ‘sayang’. Tapi ia tetap saja sibuk dengan keyboard laptopnya. Sesekali tangannya menekan tombol mouse. Tetap membelakangi wanita itu.

Wanita itu menghela nafas perlahan, “Nggak ada apa-apa” bisiknya pada diri sendiri, lalu melangkah meninggalkan ruang kerja lelaki itu. Kembali ke dapur dan mulai sibuk membersihkan panci-panci yang tadi dipakainya masak.

Tiba-tiba lelaki itu datang dari belakang, memeluknya, dan mencium pipinya.
“Ada apa sayang?” seperti biasa, suara lelaki itu selalu saja lembut.

“Nggak ada apa-apa” wanita itu menjawab singkat.

“Nggak ada apa-apa kok manggilnya sampai delapan kali?”

Wanita itu terdiam sejenak. Jadi sebenarnya dia tahu kalau aku memanggilnya dari tadi? Dihitung pula? batinnya.

“Cuma mau bilang, makan malamnya hampir dingin.”

“Ooo… Kamu sudah makan?” tanya lelaki itu. Berjalan santai ke meja makan yang sudah tertata rapi.

“Belum”

“Kenapa belum makan?”

“Nunggu papa”

“Kenapa harus nunggu saya? Nanti kalo kamu sakit gimana?”

Wanita itu kembali terdiam. Bingung. Bagaimana menjawabnya?
Ia sendiri pun tak tahu mengapa harus menunggu suaminya hanya untuk makan, mengapa begitu sulit mengedepankan kepentingan dirinya sendiri, mengapa hatinya selalu menempatkan lelaki tercinta itu ditempat teratas.

Wanita itu tetap diam. Perlahan ia menyendokkan nasi ke piring lelaki itu. Juga ke piring lelaki kecil di sampingnya.

Wanita itu memandang kedua lelaki di depannya.
Yang satu berumur 4 tahun, sedang asyik mencelupkan chicken nuggetnya ke dalam saus tomat.
Yang satu lagi berumur 27 tahun. Sedang lahap menyantap ikan bandeng masak kesukaannya.

Dalam hati, wanita itu berkata

“Sungguh, aku mencintai kalian. Mencintai sepenuh hati. Sungguh aku menyayangi kalian. Menyayangi dengan sangat”

~~~~~~~~~~~~~~

Untuk dua lelakiku: Herman Syam dan Muhammad Fakhrurosi Islama Syam.

3 Comments

  1. *deja vu

    “dit…”
    “ya niez ??”
    “gpp…”
    “lha…”

    February 1, 2008
    |Reply
  2. anymous
    anymous

    “……”

    gak jd komen ah…

    lho??? kok gak jadi? *bingung mode:on

    May 9, 2008
    |Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *