Skip to content

Femme, a happy ending story…

Posted in My Self and I

 

Kalau ini adalah sebuah cerita dongeng, maka ini adalah a happy ending story… cerita yang membuat kita selalu teringat dan susah move on..

Female on The Move yang kemudin disingkat menjadi Femme bisa dibilang merupakan ajang fashion yang paling ditunggu oleh kaum hawa bukan hanya di kota Makassar, namun hampir seluruh Sulawesi Selatan dan tahun ini adalah tahun ke-12 Femme diadakan.

Sebenarnya saya sendiri bukanlah tipe perempuan yang sadar fashion. Saya bisa memakai pakaian apa saja yang ada di lemari saat itu, padu padan sesukanya, tidak peduli apakah model pakaian tersebut sudah “ketinggalan jaman”, terlalu mainstream, atau apalah… yang penting saya nyaman memakainya. Toh, bukankah rasa nyaman adalah segalanya? #ehh

Meski demikian, beberapa tahun terakhir saya selalu menyempatkan berkunjung setiap kali event Femme berlangsung. Sekedar cuci mata ataupun berakhir dengan sebuah kantongan berisi rok lucu 😀

Kembai ke quote di awal tulisan ini, yap Femme tahun ini memberikan kesan berbeda pada saya. Itu semua tidak lepas dari kesempatan yang diberikan kepada saya untuk bebas meliput keseluruhan event ini.

Tahun ini Femme menghadirkan kreasi dari 50 Desainer Nasional, 15 Desainer lokal, ada 15 fashion show, dan diikuti oleh 300 brand, serta 20 brand milik para selebriti. Megah kan? Selain itu, sejak tiga tahun yang lalu Femme selalu dirangkaikan dengan Celebes Beauty Fashion Week, pekan mode yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Makassar.

Opening ceremony Femme pada 29 Maret berlangsung sangat meriah. Membawa tema Generation of Culture, acara diawali dengan penampilan para penari dengan membawa Lipa’  Sa’be, sarung tenun khas Sulawesi Selatan. Tarian dibawakan dengan sangat enerjik oleh para anak muda, menggambarkan semangat para pemuda Sulawesi Selatan untuk ikut melestarikan budaya tanah kelahirannya dengan kreasi-kreasi yang luar biasa.

Setelah acara pembukaan resmi dan beberapa sambutan baik dari pihak penyelenggara maupun pejabat dari instansi terkait, suasana berubah menjadi lebih meriah dengan penampilan para model yang memperagakan busana dari para desainer.

Well, seperti yang saya bilang tadi, saya bukan orang yang ngerti fashion, tapi busana-busana yang diperagakan para model (yang entah makannya apa kok yah badan bisa setipis itu) benar-benar menarik perhatian saya. Lihat saja karya Priyo Oktaviano dengan judul “Jardin de Fleur” atau dalam bahasa kita berarti Taman Bunga. Desainer lulusan Esmond Paris ini berhasil menghadirkan Paris ke Makassar lewat karya-karyanya yang didominasi oleh warna gold dan kuning muda, dipadukan dengan kain motif co’bo khas Sulawesi Selatan. Elegan dan glamour!

Selama lima hari ada 15 fashion show digelar di main runway Femme 2017 ini. Semuanya menampilkan karya yang keren. Tapi perhatian saya tidak saja tertuju pada catwalk yang panjang banget itu. Sejak hari pertama, dua layar raksasa di panggung yang di setiap fashion show selalu membelah diri (amuba kali membelah diri – -“), menampilkan para model dari belakang layar, betul-betul menyita perhatian saya. Tidak hanya itu, pengaturan lighting juga musik latar sepanjang show membuat saya selalu tersenyum sendiri. Nyaris tanpa cela. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang bekerja di belakang event akbar Femme bukanlah orang biasa. Orang-orang inilah yang membuat serangkaian acara di main stage Femme menjadi pengalaman yang sangat berkesan, susah dilupakan, dan bikin susah move on… :’(

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *