#FoodPhilosophyTrip, Kenyang dan Tenang Berkat Hemaviton Cardio


Apa yang lebih menyenangkan selain jalan-jalan? Tentu saja jalan-jalan dan makan-makan! Apalagi kalo itu semua gratis!! šŸ˜€

Yap, tepatnya tanggal 8 September 2016 lalu saya dan sejumlah peserta terpilih lainnya diajak untuk jalan-jalan keliling kota Makassar, plus tentu saja wisata kuliner khas Makassar.

Acara berjudul #FoodPhilosophyTrip Hemaviton Cardio ini mengajak kami mempelajari sejarah dan budaya kota Makassar, serta memperkenalkan makanan khas yang menjadi ikon kuliner kota Makassar. Asyiknya lagi, sepanjang perjalanan kami didampingi oleh Chef Bara yang terkenal itu šŸ˜€

Start dari hotel Horison Ultima Makassar, para peserta diajak sarapan Coto di warung Coto Nusantara.

Wuihh, tau kan Coto Makassar yang fenomenal itu.. makanan berat! Isinya mulai daging, jantung, paru, hati, babat.. kebayang kan berapa banyak kandungan kolesterolnya? Tapi tenang, peserta susah dibekali dengan Hemaviton Cardio, suplemen pencegah kolesterol.

Jadi Hemaviton Cardio ini adalah suplemen yang diperkaya dengan Phytosterol yang berfungsi mengurangi penyerapan kolesterol ke dalam saluran cerna sehingga menjadi pencegahan dini masuknya kolesterol ke dalam tubuh. So, kita tetap bisa makan dengan tenang, tanpa khawatir kolesterol meninggi.

Selesai sarapan, peserta diajak mengunjungi warung kopi legendaris di Makasar ini, yaitu Warung Kopi Phoenam. Mengapa legendaris? karena warung kopi ini sudah ada sejak tahun 1946. “Phoenam” sendiri berarti “tempat persinggahan”.

Selain menyajikan kopi, tempat ini juga terkenal dengan menu lainnya seperti teh tarik, coklat, dan roti bakar selai kaya. Kalo itu semua tentu saja bebas kolesterol dong yah?

“Di sini yang harus kita perhatikan adalah kadar gulanya” kata dr. Risma yang juga ikut dalam rombongan trip ini.

Nah loh, tentu saja pada ga mau kena diabetes kan? Sekali lagi, tenang…! Kotak bekal para peserta trip juga berisi Hemaviton GluCare.

Hemaviton GluCare ini juga adalah suplemen multivitamin yang mengandungĀ Nicotinenate, bekerja dengan membantu meningkatkan sensivitas jaringan tubuh terhadap insulin sehingga jaringan tubuh dapat menyerap gula darah dan memanfaatkannya menjadi energi, sehingga mampu mengurangi kadar gula dalam darah dan menurunkan resiko terjadinya penyakit diabetes.

Nah loh, siapa bilang mau sehat itu ga enak? Buktinya dengan Hemaviton kita bisa tetap makan enak tanpa khawatir terkena penyakit berbahaya.

Tapi, perjalanan belum selesai. Rombongan kemudian dibawa mengunjungi benteng Rotterdam, salah satu benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo yang dibangun pada tahun 1545. Di benteng yang kemudian diberi nama Fort Rotterdam ini peserta diajak mengenal lebih jauh sejarah kota Makassar serta diperlihatkan tempat tinggal Pangeran Diponegoro selama dalam masa penahanan di Makassar.

Panas terik tentu saja bikin gerah yah, tapi Es Pisang Ijo sudah menunggu para peserta. Wuihh siapa yang bisa nolak salah satu dari 10 makanan yang jadi ikon kota Makassar ini.

“Sisain tempat di perutnya yah… kita masih mau makan siang” kata chef Bara. Wah, kemana lagi kita?

Konro Bakar Karebosi! Jadi Konro itu adalah iga sapi, di Makassar umumnya konro ini diolah menjadi sup konro, tapi kali ini kita akan menyantap versi panggangnya yang dilengkapi dengan kuah yang mirip kuah rawon.

Nah loh, kolesterol lagi deh… Eits, ingat kan kalo kita punya Hemaviton Cardio yang bisa dimakan ditengah-tengah santap siang atau sesaat setelah selesai makan. Oiya, untuk mengetahui kandungan gizi tiap makanan yang kita santap, ga perlu repot ke ahli gizi karena hemaviton meluncurkan InFoodGraphic. Bisa diaksesĀ di sini.

Memasuki waktu Dhuhur, rombongan menuju masjid Al Markaz Al Islami yang merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara. Masjid yang pembangunannya berlangsung dari tahun 1994 sampai 1996 ini terletak di jalan Masjid Raya. Bangunannya terdiri atas 3 lantai dan terbuat dari batu granit.

Selesai shalat dhuhur, kami disuguhi aneka gorengan khas Makassar seperti Jalangkote, Bikandoang, dan Barongko. Barongko adalah kue manis berbahan dasar pisang, telur, gula dan santan. Jalangkote adalah kue serupa kue pastel, sedangkan Bikandoang sama persis dengan bakwan. Ciri khas bikandoang ini adalah ada udang di bagian tengah kue. Dalam bahasa Makassar, “doang” = udang.

Jalangkote dan Bikandoang jelas adalah gorengan, yang mengkonsumsinya dalam jumlah banyak tentu saja kurang baik bagi kesehatan karena bisa mempertinggi resiko penyakit jantung. So, jangan lupa Hemaviton Cardionya ya manteman…

Setelah rehat siang sejenak, rombongan pun menuju Pantai Losari, kawasan yang menjadi ikon utama kota Makassar. Kebetulan pada hari itu adalah hari pertama Makassar International Festival and Forum. Di lokasi ini, Chef Bara memamerkan keahliannya dalam mengolah makanan dan kali ini pilihan menunya adalah Pallubasa yang dimodifikasi sehingga lebih bercitarasa internasional.

Sore menjelang, saatnya peserta menuju lokasi selanjutnya di seberang pulau. Yap, peserta akan menyantap makan malam di pulau Kayangan. Pulau yang dikelola dengan profesional oleh pemkot makassar ini dapat dicapai kurang lebih 30 menit dengan menggunakan kapal cepat.

Menikmati sunset di Pulau Khayangan, romantis-romantis lapar gitu, sementara ikan-ikan masih duduk manis di pembakaran…

Menu makan malam kali ini memang spesial, hidangan aneka seafood yang dipanggang dan disajikan dengan sambel terasi. Ikan, udang dan cumi yang benar-benar fresh menghapus lelah semua peserta.

Perjalanan seharian ini pun berakhir “happy ending” dengan bagi-bagi hadiah oleh Chef Bara.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *