gaya hidup dan hidup gaya 1


Beberapa hari ini nggak pernah online, jadi baru tadi sempat baca tulisan Adit. Bener juga. Walau dalam keadaan yang sangat minim, toh masih banyak orang yang bisa tertawa tanpa beban. Saya jadi ingat sahabat almarhum kakek saya. Kita biasa manggilnya Pua’ Usu. Pekerjaannya tukang becak. Tapi tiap waktu shalat beliau selalu ada di mesjid. Wajahnya selalu terlihat bersih dan bersahaja, nggak pernah terlihat murung, murah senyum lagi. Bahkan kalo’ ada yang make jasa becaknya, trus turunnya di rumah kakek saya, digratisin! Saya berfikir mungkin itu karena kedekatannya dengan Allah, selalu mensyukuri apa saja yang diberikan Allah padanya, jadi beliau nggak pernah khawatir walau hidup pas-pasan.

Sadar atau tidak, sebenarnya manusia itu hanya memerlukan sedikit dari sekian banyaknya nikmat Allah yang diberikan. Manusia itu hanya perlu kesehatan, kesempatan, makan, minum, pakaian dan tempat tinggal. Selebihnya hanyalah untuk gaya hidup dan hidup gaya. Tinggal bagaimana kita pandai-pandai bersyukur.

Orang lain bisa hidup di rumah tipe RSSSS (Rumah Sungguh Sangat Sederhana Sekali), tapi kenapa harus maksain ngontrak rumah ‘agak mewah’ demi gengsi?

Orang lain bisa kemana-mana naik angkot, kenapa harus stress karena supir yang tiba-tiba pulang kampung?

Banyak hal lain yang kadang lupa kita syukuri. Selalu ada kelebihan dalam hidup ini, tapi kenapa terus mikirin yang nggak ada?

Bisa hidup sehat dan bermanfaat bagi orang lain -minimal nggak nyusahin orang lain- adalah anugrah yang luar biasa.


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

One thought on “gaya hidup dan hidup gaya

  • Praditya

    Bisa hidup sehat dan bermanfaat bagi orang lain -minimal nggak nyusahin orang lain- adalah anugrah yang luar biasa.

    Setuju…

    Hmm… Kira2 saya udah nyusahin sapa aja ya? 😀