Skip to content

Ih, Kakak Toh, Lalenya! | Review : Halo Makassar

Posted in Movie, and Review

Daaaannn.. saya membeli tiket nonton film Halo Makassar ini satu menit sebelum jam pemutaran film. Dadakan memang. Beberapa saat sebelumnya saya sudah berjalan menuju pintu keluar mall, bahkan sudah memesan taksi online ketika tiba-tiba memutuskan berbalik menuju bioskop untuk menonton film ini.
Maaf yah bapak driver, orderan saya cancel.

—-

“Film kedua setelah Uang Panaik” begitulah yang terpampang nyata di trailer film Halo Makassar ini.
Nah loh. Meskipun Uang Panaik terbilang sukses dilihat dari jumlah penonton, pun berhasil meraih penghargaan Film Produksi Daerah terbaik, bagi saya film itu tetap saja kurang greget (review Uang Panaik ala-ala saya bisa dibaca di sini).
Karenanya saya pun tak berani menaruh ekspektasi terlalu tinggi, bahkan tak begitu antusias menonton Halo Makassar di hari-hari awal penayangan film ini.

—-
Well, sebelum kita melangkah lebih jauh
apakadeh-, sekali lagi, saya bukan kritikus film, hanya penikmat film yang ga ngerti segala rupa hal teknis dalam pembuatan film 😊
Jadi yang saya tuliskan di sini ya semuanya berdasarkan “nikmat atau tidak”nya 😅

Film nya masih tayang di bioskop kesayangan kalian gaess.. jadi sedapat mungkin saya ga akan spoiler di sini. Janji!

So, here we go.

Overall, film ini NONTONABLE.

Bagi saya, deretan nama-nama orang di balik layar yang muncul di awal pemutaran film sebenarnya sudah menjadi magnet tersendiri untuk tetap duduk dan menanti ending film ini. Nama-nama mereka seperti sebuah jaminan bahwa film ini bukanlah karya asal-asalan. Tapiiii… ada yang lebih menarik dari nama-nama pemuda-pemudi keren harapan bangsa itu… apaan? ntar ah.. balik ke judul dulu..

“Iihh kakak toh, lalenya..”

Otomatis senyum-senyum sendiri ketika scene ini muncul, walaupun sudah berkali-kali saya melihatnya di trailer film ini sejak beberapa bulan lalu.

Natural. Mungkin itu sebabnya hingga kalimat itu menjadi menarik. Dan hampir di sepanjang film kita bisa mendengar dialog-dialog natural, dengan bahasa sehari-hari khas Makassar, dan tidak memaksakan “logat Jakarta” seperti ini. Satu nilai plus buat film ini.

Bercerita tentang Diat, komposer musik asal Jakarta yang datang ke Makassar untuk mengerjakan sebuah project dari klien. Jatuh cinta pada pendengaran pertama ketika mendengar suara Anggu, si operator perusahaan taksi.

Karakter Diat sepertinya ingin ditampilkan sebagai pemuda yang cuek, pendiam, ga suka basa basi, ngeselin, kadang malah seperti ga punya sopan santun, pokoknya kalo kata orang Makassar, Diat ini pakaballisi’ 😤
Diperankan dengan sangat baik, walaupun penggambaran karakter ini hampir buyar seketika begitu saya melihat ia memakai sepatu bertali dan menyimpan kacamata dengan sangat rapi 🙈
Untuk cowok urakan yang ngurus rambut aja kayaknya malas banget, pakai tempat kacamata itu terlalu rempong, mas bro 😅

Bergenre komedi romantis, cerita film ini sebenarnya amat sangat ringan, tapi unik, dan itu yang membuatnya asyik ditonton.
Yaah walaupun tetap ada saja beberapa scene yang menurut saya ga perlu ada, atau sedikit miss. Iyalah, ga ada yang sempurna di muka bumi ini, iya toh Mellong?

Tapiii… nah ini dia nih yang tadi saya bilang, ada satu hal yang menarik perhatian saya sejak awal.

Musik!

Saya ga ngerti istilahnya. Backsound kah, musik latarkah, atau apalah itu. Pokoknya semua musik yang ditampilkan di film ini sungguh keren!!!

Pertama, soundtrack nya! Ya ampun… lagu Di Mana Kamu – Ren feat. Eien ini earworm banget. Sumpah!
Ga usah diceritain, dengar aja sendiri.

Kedua, nah itu tadi.. semua musik yang diperdengarkan di film ini. Keren!!

Adegan pembuka film ini diiringi kombinasi suara-suara dari segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Suara klakson, mesin jahit, tiang listrik, orang lagi nyapu, semuanya membentuk irama yang sungguh merasuk hingga ke relung jiwa. Hadehh.. ketularan Mellong deh gue.

Ga begitu excited sih awalnya, karena saya udah nonton film Teman Tapi Menikah yang juga dibuka dengan komposisi musik seperti ini.

Tapi seriusan, sepanjang film ini, kita bakal disuguhi potongan-potongan irama yang enak didengar.
Apalagi hasil proyek yang dikerjakan si Diat ini. Walaupun hanya diperdengarkan sekilas di bagian akhir film, musiknya juga ga kalah asyiknya. Angkat jempol deh.

Jujur nih yah.. awalnya saya agak terganggu dengan suara-suara latar itu. Bukan karena musiknya ga keren, tapi cara motong musiknya di tiap adegan. Gantung banget.
Itu tuh serasa lagi ada di friendzone gitu loh. Jadian nggak, temen biasa juga bukan. Eh, maksudnya tuh kayak lagi denger lagu dari hape yang dah pas dengan suasana hati dan seluruh jiwa raga, trus tiba-tiba hapenya mati.

Tapiiiii… ternyata oh ternyata, potongan-potongan yang nggantung itu disatukan lagi di akhir film, di scene credit. Dan ternyata asyik banget didengarnya.

So, kesimpulan?

~ Yang paling keren dari film ini : Soundtrack.
Lalu Mellong dan Bimbi #ehh

~ Film ini sudah lebih dari sekedar “karya lokal”. Dari segala sudut, film ini sudah bisa masuk level nasional. Malah, jauh lebih nontonable daripada film-film serupa yang jalan ceritanya enjel alias endak jelas 🙈

~ Konsep film ini bisa dibilang hampir matang. Ini tentang komposer musik yang lagi jatuh cinta. Dan seluruh film ini diisi dengan komposisi musik yang bikin jatuh cinta 😍
Oiya, konon selama syuting pemeran utama pria dan wanita memang bener-bener ga dipertemukan hingga scene terakhir. Mantap nih 👍🏻👍🏻

~ Komedi : so-so.
Walaupun ga garing banget, tapi joke nya masih ketebak, jadi ya saya masih di level senyum hingga tertawa ringan.

~ Kelereng, layangan, 3.5” floppy disk, kaset tape, dan pulpen buat gulung pita kaset. Ide siapa sih munculin benda-benda itu. Ga penting tapi cute banget deh.

~ Open ending. Saya suka saya suka saya suka ending seperti ini.

Nah, mumpung filmnya masih tayang, cepetan nonton gih!

ps : sebagai apple user, saya nambahin satu poin lagi karena di film ini pakai iphone dan macbook 🙈

ps lagi : itu gorden di kamar Anggu beli di mana yah? 👀

7 Comments

  1. Setuju, nontonable.

    BTW, Saya saja seeing bawa kacamata asal taruh di dalam tas, ndak bawa tempatnya padahal saya tidak urakan, apa ma itu dih kakak Ama?

    April 21, 2018
    |Reply
    • ama
      ama

      hehehe… kalo Diat ka rapi sekali tempat kacamatanya jadi kuperhatikan ki. Kalo kak Niar pasti mi tidak urakan, mungkin biar praktis saja yah kak..

      April 21, 2018
      |Reply
  2. Ayi
    Ayi

    Eh eh, saya juga cuek tapi rapi kalo naruh kacamata di tempatnya. Takut rusak. Kalau harus beli lagi mahal.

    Asik ih reviewnya, pi nonton di bioskop baru dekat rumah deh…

    April 21, 2018
    |Reply
    • ama
      ama

      kalo Ayi mah tidak terhitung cuek naknya..

      April 21, 2018
      |Reply
  3. Amril Nuryan
    Amril Nuryan

    Kelereng, layangan, 3.5” floppy disk, kaset tape, dan pulpen buat gulung pita kaset itu ada untuk kode kalau ada generasi baby boomer terlibat dalam produksi film ini hahahaha

    April 21, 2018
    |Reply
    • ama
      ama

      ☺️ angkatan nakke banget itu pak

      April 21, 2018
      |Reply
      • Amril Nuryan
        Amril Nuryan

        singkamma ji hahahaha

        April 21, 2018
        |Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *