Jangan Berhenti Menjadi Manusia 15


online shop vs traditional market pict : pexel

online shop vs traditional market
pict : pexel

“Mas, beli tahunya”

“Mau berapa ember, mba?”

“Satu ember sajalah… jangan banyak-banyak” kataku sambil menyerahkan selembar uang limaribu rupiah.

Si mas penjual tahu pun mulai memasukkan potongan-potongan tahu ke kantong plastik.

“Bu, lengkengnya sekilo berapa?”

“Murah, nak.. cuma duabelas ribu.. manis itu”

“Boleh dicoba ga, bu?”

“Boleh, tapi jangan sekilo ya cobanya”

“Nda lah bu, paling juga setengah kilo”

jawabku sambil tertawa.

“Kak, telur sebutir berapa?”

“Yang kecil seribu, yang sebelah sini seribuduaratus”

“Kalo yang pecah, berapa?”

“Yang pecah gratis”

“Saya pecahin semua yah..”

Lalu saya dipelototi sama yang jualan 😀

Heh? Beli tahu seember cuma limaribu rupiah? Haha.. ya ga mungkin lah… itu cuma percakapan iseng saya dengan mas penjual tahu yang sudah jadi langganan bertahun-tahun ini. Pun percakapan-percakapan lainnya. Percakapan akrab yang bisa kita temui setiap hari di pasar-pasar tradisional. Percakapan yang kini sepertinya mulai terganti dengan kalimat-kalimat

“cek IG kita ya sist…”

“order sesuai format ya say..”

“ditunggu transferannya yah”

“jangan lupa testimoninya yah cantik”

dan sederet kalimat-kalimat khas online shop lainnya.

Yap, internet hadir di tengah kita seperti pisau bermata dua. Sangat memudahkan, namun juga kadang melalaikan di waktu bersamaan.

Contoh paling nyata ya di proses belanja. Ngapain juga harus capek-capek ke pasar becek naik ojek, kalau sekarang bisa memesan  apapun yang kita mau hanya dengan beberapa pencetan ibu jari ke layar handphone? Mudah, kan?

Iya, sangat mudah. Ditambah lagi kita seakan benar-benar menjadi ratu ketika belanja, tinggal duduk santai di depan tivi, pesanan datang langsung ke genggaman. Belum lagi yang punya toko dah serasa sodara sendiri, manggil kita aja pake “sist”, kadang rasanya disayaaaaangg banget sama yg punya toko, tiap kalimat berujung sapaan “say”. Ironisnya, semua kemudahan itu kemudian memisahkan kita dengan abang tukang bakso langganan, lalu menghadirkan orang ketiga bernama kurir online.

Lihatlah di semua tempat perbelanjaan, mulai dari swalayan besar di mall, sampai penjual tahu goreng di pinggir jalan, bapak-bapak berjaket salah satu perusahaan jasa kurir itu tampak di mana-mana.

Contoh lain yang lebih canggih bisa kita lihat di Dubai. Smart Mall hadir di tengah masyarakatnya. Sebuah layar sentuh berukuran raksasa ditempatkan di stasiun kereta, layaknya showcase dari sebuah toko, di mana konsumen bisa secara interaktif melakukan pembelian, membayarnya, lalu pergi dengan santai karena semua belanjaan akan diantarkan ke alamat yang telah diberikan. Smart Mall di Dubai ini merupakan yang pertama di dunia. Canggih yah?

Smart Mall Dubai, pertama di dunia. Pict : 7days

Smart Mall Dubai, pertama di dunia.
Pict : 7days

So, apa yang salah dari semua itu? Tidak ada.

Hanya saja semua kemudahan berbelanja ini kadang menjadikan kita mager, malas gerak. Juga menjauhkan kita dari interaksi secara nyata dengan orang-orang sekitar. Kapan terakhir kali kita ngumpul dengan ibu-ibu kompleks, menawar jualan tukang sayur dengan penuh kedzaliman (habis itu minta bonus pula), saling bertukar cerita yang ga penting? Bahan obrolannya mungkin ga penting, mungkin sekedar membahas gosip si mba artis itu yang lagi liburan sama mas artis itu, ato mba setadjah yang entah apa masalahnya itu, ato lagi ribut enakan granat rasa stroberi ato vanila… yaelah, yang hobi gosip pasti paham dah yee… ga berbobot memang, malah berpotensi nambah dosa hihihi.. tapi dari ngumpul-ngumpul seperti itu kita jadi tau kalo anak si ibu A kemarin menang lomba ngaji se RW, atau suami si ibu B sedang sakit, trus si ibu C ternyata jualan bubur manado paling enak se kelurahan, dan semua itu beneran bisa mempererat silaturahim loh.. besok-besok kita butuh bantuan, siapa yang bisa bantu kalo bukan tetangga terdekat? Tapi kalo kita diem terus di dalam rumah, mengandalkan toko online dan abang kurir untuk semua kebutuhan belanja kita, bagaimana tetangga bisa tahu kalo kita ini ada, bahwa kita ini masih “hidup”?

Ga perlu lah yah kita ngomong soal dampak ecommerce bagi pertumbuhan ekonomi di masyarakat, bukan karena bahasannya jadi lebih berat, tapi karena memang saya ga ngerti 😛 tapi coba deh sekali-kali belanja lah di pasar tradisional, berinteraksi dengan banyak orang, mendengar sekilas obrolan-obrolan ringan mereka.

Kalo mau hitung-hitungan uang, mungkin jadi rugi banyak dibanding dengan belanja online. Tapi percaya deh ada hal-hal lain yang kita dapati yang ga bisa kita nilai dengan lembaran rupiah. Senyum tulus dan ucapan terima kasih dari bapak-ibu penjual, mata berbinar dari anak-anak kecil yang menawarkan jasa angkat barang (sama yang ini jangan suka sadis yah, belanjaan 10 kilo nyuruh anak kecil bawa semua, itu tidak berperikemanusiaan), ato bahkan lirikan judes dari mba-mba yang jualannya kita tawar diskon 85% hihihi… lagian, kalo belanja langsung, kita juga bisa lebih puas memilih atau mencoba, menjadikan panca indera kita benar-benar bekerja 🙂 semua itulah yang menjadikan kita benar-benar manusia.

Kita manusia, dan menurut pelajaran IPS, kita itu makhluk sosial, maka bersosialisasilah agar kita tetap menjadi manusia. Dan media sosial kita yang sebenarnya ada di dunia nyata, bukan di dunia maya, apalagi dunia mulan jamila.. #ehh…

Buat ibu-ibu, manteman perempuan, adek-adek cewek, come on ladies… belanja itu bakat alami kita sejak lahir, jangan sampe diambil alih sepenuhnya sama babang kurir… belanja online sih oke, tapi sesekali ke pasar gih… apalagi yang masih sendirian, ya kali di pasar bisa ketemu jodoh #ups

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tantangan #bakutantangngeblog dalam rangka #10thnAM.

Selamat Ulang Tahun, Pacca!


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 thoughts on “Jangan Berhenti Menjadi Manusia

  • tari artika

    hihihi saya doong, suka liatin barang di olshop tapi ujung2nya belanja langsung.. takut ga cocok, takut kena tipu, dan rasa puas lebih terasaaa. wah jangan tanya kalau urusan ke pasar dan ngerumpi tukang sayur kompleks, hobbyyy!

  • Ndy Pada

    Minimal seminggu sekali masih ke pasar tradisional, belanja kebutuhan sehari-hari. Seneng banget kalo pas dapat harga murah dan banyak. Tapi saya paling ga bisa nawar. Hahaha..

    Walaupun senang juga belanja dan jualan online sih hihihi 😀

    Thank u kak Ama sharingnya. Tulisannya keren!

  • Ifah

    Belanja di pasar memang memyenangkan. Interaksi dengan penjual, dengan anak2 penjaja kantong plastik, hingga tukang parkir tidak bisa tergantikan dengan teknologi.

    Hidup pasar!

  • Unga Tongeng

    Membaca ini seolah membaca diskusi temanku tentang Mart modern versus kios kecil. Kenalkan…saya adalah customer belanja online. Dari belanja di marketplace, instagram sampe go-food, semua sering saya lakukan. Apakah saya duduk manis di rumah? Atau duduk manis di kantor.
    Justru karena saya kesana kemari, makanya suka belanja online. Tapi tak semua orang punya alasan sama.
    Meski penggila belanja online, dg.Laja di sekretariat lemina, dg. Sibali tukang bakso kompleks…masih tetap jadi langganan. Pasae tradisional? Masih laaah. Saya belum menemukan kentang segar dalam jumlah banyak tuk keperluan arisan, di menu go-mart. Apalagi seikat besar daun sup. Oh iya..Lotte mart Makassar sudah melayani go-mart, tapi barangnya terbatas. Saya lebih suka ke tempatnya langsung.
    Laksana mart-mart yang rame, tak mampu menggeser peran pasar tradisionak yang jualan bumbu kari segar, market place pun tak mampu menggeser hobby saya belanja sayur dan ikan mentah di pasar hertasning baru. Hehehe.