Skip to content

Koki-Koki Cilik : Teman Ga Nusuk Dari Belakang!

Posted in Movie, and Review

Koki-koki Cilik, The power of friendship.

Aduuhh… ini dah telat banget sih saya nulisnya. Eits, harap tenang pemirsah, tulisan ini ga mengandung unsur spoiler kok…

Wait, first thing first. Di film-filmnya yang lain, bagi saya dia b aja, tapi di film ini saya sedikit jatuh cinta pada Morgan Oey 😍 Tapi lebih jatuh cinta lagi pada Alifah Lubis 😍😍

Ok, lanjut.
Saya sangat menikmati film ini, dari awal hingga akhir. Setiap menitnya. Ga ada satu scene pun yang terasa membosankan. Sesekali tersenyum, tertawa, gemes, lalu terdiam dan menitikkan air mata. Film ini menggabungkan semua emosi.

Film ini punya power.
Itu kesan pertama saya setelah menonton film yang sangat cocok untuk family time karena rilisnya tepat banget pas liburan sekolah ini.

Penambahan “om” dan “tante” di setiap nama orang dewasa para pendukung film semakin menguatkan nuansa anak-anak di film garapan Ifa Isfansyah ini. Film ini seperti berkata pada setiap anak bahwa ini adalah “film spesial untuk mereka, film tentang mereka, dunia mereka”

Mengangkat tema masak memasak bukanlah hal yang lazim untuk sebuah film dengan target pasar anak-anak dan keluarga. Namun hal inilah yang menjadi daya tarik film Koki-koki cilik. Bikin penasaran.

Adalah Bima, anak kecil dari kampung yang penduduknya hidup dalam kesederhanaan tetapi dipenuhi aura bahagia.

Berasal dari keluarga sederhana membuat Bima harus gigih menabung agar bisa ikut serta pada Cooking Camp, sebuah acara kompetisi memasak bergengsi bagi anak-anak dengan hadiah utama 100 juta rupiah.

Kecintaan Bima pada dunia memasak diwarisinya dari sang Bapak yang semasa hidupnya adalah seorang chef. Bima bertekad akan membuat restauran seperti harapan almarhum Bapak. Rasa cinta yang begitu besar itulah yang mengawali cerita ini.

Dan sekali lagi, film ini punya power.

The Power of Cerita.

Meski temanya agak “berat”, film ini berhasil ditampilkan dengan sangat ringan dan segar. Alur cerita yang menurut saya sangat runut dan rapi. Jalan ceritanya memang sangat sederhana, malah sangat mudah ditebak. Ga ada konflik-konflik berarti. Tapi yang jelas, ga alay dan ga lebay 😀

Lelucon yang disuguhkan pun sangat mudah dicerna. Namanya juga film untuk anak-anak. Ga perlu mikir untuk bisa mengerti film ini. Walaupun mungkin untuk penonton berusia 10 tahun ke bawah masih perlu beberapa penjelasan, tapi toh itulah gunanya ayah dan bunda mendampingi ananda saat menonton kan? 😀

Koki-Koki Cilik juga mengajarkan, bahwa cita-cita itu bisa apa saja. Tidak terbatas hanya menjadi guru, polisi, dokter, atau pekerja kantoran saja. Menjadi juru masak pun adalah sebuah “pekerjaan” bergengsi yang keren. Dan yap! Anak laki pun harus bisa masak!

The power of Keluarga.

Pengaruh lingkungan terdekat yakni keluarga sangatlah menentukan pembentukan kepribadian setiap anak.

Warga di lingkungan tempat tinggal Bima digambarkan sangat dekat satu sama lainnya. Hubungan mereka bukan lagi sekedar tetangga, melainkan seperti keluarga terdekat.
Susah dirasakan bersama, senang dinikmati bersama.

Kehangatan kekeluargaan ditampilkan dengan sangat manis. Suasana yang mungkin akan sangat sulit kita dapatkan lagi di kehidupan jaman now.

Dibesarkan di lingkungan seperti itu membuat Bima tumbuh menjadi anak yang supel, dicintai banyak orang, polos tapi tetap percaya diri.

Berbeda dengan Audrey yang terbiasa hidup tanpa teman bermain dengan semua aturan yang dibuat mamanya menjadikannya seperti robot.

Sementara Melly, ah.. I love you, nak 😘

Melly, diperankan oleh Alifah Lubis. My favorite 😍

The Power of Karakter.

Selalu suka melihat karakter yang begitu pas dan melekat kuat pada para pemainnya.

Semua peran dimainkan dengan begitu baik. Natural dan mengalir. Hampir tanpa cela. Saya hampir saja bertepuk tangan pada adegan di mana Bima (-Farras Fatik-) menangis.
Menurut saya, pasti tidak mudah membuat seorang anak lelaki menangis. Apalagi menangis dengan “natural”.

Pemilihan para pemain benar-benar pas. Mungkin juga karena anak-anak kekinian ini memang sudah sangat terbiasa di depan kamera, jadi aktingnya pun mulus-mulus saja.

Tentu saja peran pemain dewasa pun dimainkan tak kalah bagusnya. Lihat saja Morgan Oey. Kalau di beberapa film sebelumnya bagi saya ia berakting agak lebay, kali ini beda.
Berperan sebagai Chef Rama, memaksa Morgan belajar memasak selama seminggu pada Chef Agus, yang juga ikut bermain di film ini. Hasilnya? Yaah cukup meyakinkanlah ia sebagai mantan chef ternama yang kemudian menjadi petugas cleaning berhati dingin. Cuek, tapi cakep! #ehh

Chef Rama (Morgan Oey) sedang mengajari Bima (Farras Fatik)

The power of Visual

Mengambil lokasi di Lembang, Bandung, membuat kita rasanya pengen liburan terus. Pokoknya siap-siap saja lapar mata. Mulai dari pemandangan, keceriaan warna-warni khas dunia anak, dan makanan-makanan enak tersaji di sini.
Hampir di sepanjang film kita akan disuguhi makanan-makanan mevvah yang aromanya serasa keluar dari layar dan bikin lapar.
Bukan cuma itu, kita juga bisa mendapat tambahan pengetahuan tentang pengolahan makanan dan beberapa teknik memasak.

Dan akhirnya saya pun paham mengapa makanan di restoran mewah itu mahal harganya. Lah wortelnya saja dipotong kubus dengan ukuran presisi… 😅

Oiya, kabarnya sebelum syuting anak-anak ini juga diberi workshop selama sebulan oleh Chef Agus. Mulai dari cara memotong sayuran, cara menggunakan alat memasak, dan sebagainya. Pantes kelihatannya pada jago banget.

Teman itu senang sama-sama, sedih sama-sama, jahil juga sama-sama…

The power of Nilai-nilai.

Well, jalan cerita boleh sederhana, tapi film ini sarat akan nilai-nilai positif.

Ini memang film untuk anak-anak. Tapi bagi saya film ini justru membawa pesan kuat bagi para orang tua.

Lupakan egomu wahai ayah bunda. Jangan sampai anak menjadi korban pelampiasan kehendakmu yang tak tercapai di masa lalu.
Biarkan mereka menjalani hidupnya, passionnya. Tugas orang tua hanyalah sebagai fasilitator.

Sementara bagi anak-anak sendiri, lewat film ini mereka bisa belajar tentang kerja keras, tentang cita-cita yang harus diperjuangkan, tentang persahabatan, tentang kompetisi, tentang prinsip.

Bahwa tak ada sesuatu yang instan tanpa usaha. Bahwa setiap tantangan justru harusnya semakin menguatkan. Bahwa teman harus saling transfer energi, saling mendukung dan bukannya saling menjatuhkan. Bahwa mengalah tidak berarti membuatmu jadi pecundang.
Bahwa persahabatan jauh lebih penting dari sebuah piala.

Dan yang namanya teman, ga nusuk dari belakang.

——

*semua gambar diambil dari Instagram @film_kokikokicilik

—-
Catatan kecil untuk para orang tua, yuk ajari anak menjadi penonton keren.
Jika harus antri maka antrilah dengan tertib saat membeli tiket. Masuk studio tepat waktu, patuhi aturan dalam studio, jangan merekam adegan film, dan jangan meninggalkan sampah.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *