Kutepati Janjiku Padamu, Paris 4


“kamu percaya pada kekuatan doa?”

img_2259

Oktober, 2013

Mataku tertuju pada buku tipis di salah satu rak di toko buku ternama itu. Buku tulis biasa, harganya lima ribu rupiah. Adalah gambar pada sampul buku itu yang kemudian menarik perhatianku. Menara Eiffel.

Saya lupa sejak kapan mulai mengumpulkan pernak pernik ‘berbau’ Paris. Tas, dompet, buku, pulpen, jam tangan, gantungan kunci, apa saja, selama ada ‘aroma’ Paris di situ.

beberapa pernak pernik ber'aroma' Paris yang saya koleksi - gambar diambil dari Instagram my_ama_zing

beberapa pernak pernik ber’aroma’ Paris yang saya koleksi – gambar diambil dari Instagram my_ama_zing

Saya kemudian membeli buku tulis itu, lalu memotretnya bersama passport dan mengetikkan sebait kata-kata indah sebelum mengunggahnya ke Instagram.

dearparis

“Dear Paris, just wait for me, we are going to meet. I promise”

Bagi orang berduit, pergi ke Paris pastilah hal yang mudah saja. Tapi bagi saya, itu terlihat seperti mimpi yang muluk-muluk. Terlalu indah.

Maret, 2015

Pengukur suhu yang terpasang di depan kaca bis menunjukkan -3 derajat celcius di luar sana. Mendung dan berkabut. Musim salju sudah lewat, tapi udara di musim dingin ini masih terasa menusuk, menembus lapisan baju, sweater, dan coat yang saya gunakan berlapis-lapis.

“Lihat!” teman yang duduk di sebelah saya menunjuk ke jendela bis. Saya menoleh dan kemudian tersenyum lebar.

Menara Eiffel terlihat dari jauh. Puncaknya ditutupi kabut, tapi tetap saja terlihat indah. Saya bergegas turun dari bis begitu pintunya terbuka. Rasanya saya tidak ingin kehilangan satu detik pun, saya ingin cepat-cepat menemuinya. Menemui Eiffel. Menemui Paris.

“Hai, Eiffel” saya berdiri menatapnya. Bangunan megah yang terlihat sangat kokoh dan juga sangat anggun.

Tidak, saya tidak sedang bermimpi. Saya sadar dan ya, saya ada di sini. Berkali-kali saya meyakinkan diri sendiri bahwa saya benar-benar berdiri di sini, setelah ‘perjuangan’ berbulan-bulan sebelumnya. Perdebatan kecil demi izin suami, pengeluaran yang dipangkas sedemikian rupa, pengiritan yang nyaris saja membuat saya menjadi orang terpelit sedunia, wawancara saat mengurus visa yang hampir membuat saya jantungan, begadang demi hunting tiket promo, kini semua itu terbayar sudah.

image

image

image

Janji telah terpenuhi. Saya menemuimu, Paris.

***

*bagaimana saya bisa sampai ke Paris, insiden “hilang”nya saya di atas menara Eiffel, juga cerita perjalanan saya ke Eropa Barat dan Timur, nanti yaa..


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 thoughts on “Kutepati Janjiku Padamu, Paris