Maafkan Aku, Tapi Bolehkah Kita Kembali Seperti Dulu Lagi? 6


Dulu, duluuuu banget, setiap hari selalu saja ada cerita indah dan kau selalu siap mendengarnya.

Dulu, duluuuuu… apapun akan saya ceritakan padamu. Yang lebay, yang alay, yang norak, yang senang, yang sedih, apapun. Dan kau tetap jadi pendengar yang baik.

Tapi itu dulu. Dan iya, saya yang salah. Maafkan yah..

~~~

Jauh, jauh sebelum ini, setiap kali mencari tahu akan sesuatu, maka langkah pertama yang saya lakukan adalah membuka browser, mengetik di mesin pencari itu, dan berharap mendapatkan informasi yang saya inginkan. Bahkan saya hampir lupa bahwa mesin pencari bukanlah mesin penjawab. Saya seakan selalu menuntutnya untuk memberi jawaban untuk semua ketidaktahuan. Dan jika hasilnya tidak memuaskan, saya mulai merasa marah, kenapa sih tidak ada orang yang menulis tentang ini, itu, anu, apa saja yang tidak saya dapatkan saat itu. Kenapa sih tidak ada orang yang memikirkan untuk menulis begini begitunya biar orang lain bisa terbantu? Kenapa sih tidak ada orang yang mau berbagi pengalamannya, gapapa lah narsis yang penting ada informasi yang bisa orang lain dapatkan. Kan kasihan orang-orang yang sedang kebingungan seperti saya 😓

Tapi kemudian saya terdiam. Saya menyadari satu hal. Sayalah “orang yang tidak ada” itu. Sayalah orang yang tidak mau menulis untuk memberi informasi kepada orang lain itu. Sayalah orang yang tidak berpikir untuk menulis segala “begini begitu” yang bisa membantu orang lain itu. Sayalah orang yang tidak bermanfaat itu. Saya.

~~~

Dulu, duluu banget.. saya dan kamu selalu mengajak orang lain berbahgia bersama kita. Merasakan yang kita rasa, mengalami semua kisah yang kita lewati.

Dulu, duluuuu… saya dan kamu selalu berjanji untuk menjadi teman yang baik bagi semua orang, menjadi jawaban untuk setiap tanya. Karena kita sadar belum bisa berbuat sesuatu yang menghentak dunia tapi kita ingin semuanya menjadi amalan yang tak terputus pahalanya.

Dulu, kita seperti itu.
Blog, maafkan saya. Tapi bisakah kita seperti dulu lagi?


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 thoughts on “Maafkan Aku, Tapi Bolehkah Kita Kembali Seperti Dulu Lagi?