Skip to content

Uang Panaik, Maha(R)L

Posted in Movie

image

Mengangkat cerita tentang Uang Panaik yang merupakan isu penting dalam tradisi pernikahan Bugis Makassar, film ini sukses membuat ribuan orang penasaran untuk menontonnya. Lihat saja antrian luar biasa di seluruh jaringan bioskop XXI di kota Makassar. Bahkan jumlah layarnya dikabarkan mengalahkan jumlah layar film fenomenal AADC2.

Selain karena Uang Panaik sendiri adalah hal yang selalu menarik untuk dibicarakan, kehadiran dua selebritis lokal Tumming dan Abu yang terkenal dengan video-video lucunya di Instagram sepertinya juga menjadi daya tarik utama di film ini.
Nama tokoh dalam cerita pun mungkin mengambil nama Risna, seorang gadis yang terekam menangis di acara pernikahan mantannya, dan videonya menjadi viral beberapa waktu lalu. Mereka berdua dikabarkan gagal menikah dikarenakan tidak ada kesepakatan di antara kedua pihak keluarga mengenai uang panaik ini.

Film ini bergenre Drama Komedi. Sementara saya pribadi adalah orang yang sering gagal paham tiap kali menonton pertunjukan komedi, ~terutama standup comedy~ 😅 Orang lain tertawa terbahak-bahak, sementara saya malah bingung di mana lucunya karena sudah bisa menebak “arah pembicaraannya”.
Tapi beberapa celoteh Tumming dan Abu di film ini bisa membuat saya spontan tertawa. Lelucon segar yang tidak perlu dicerna mendalam. ☺️

Dari judulnya, kita semua bisa menebak inti cerita film ini, tapi film ini seperti ingin “menyindir” para orang tua yang menjadikan Uang Panaik sebagai ajang gengsi dan melupakan hakikat penting dari sebuah pernikahan.
Sayangnya, terdapat beberapa scene yang tampaknya tidak perlu ada, sementara beberapa hal yang sangat penting justru mendapat porsi sangat sedikit.
Sebut saja proses lamaran yang diawali berbalas pantun yang memperlihatkan bagaimana tradisi kesantunan luar biasa dijunjung tinggi dalam budaya kita ~yang mungkin sudah hampir hilang saat ini~, nasehat ayah Ancha agar anaknya terus berjuang, pembicaraan ayah Risna dan koleganya yang mengemukakan bagaimana tradisi Uang Panaik ini justru bisa menjauhkan dari syariat Islam, serta nasehat penting tentang bagaimana seorang anak harus bisa mengambil keputusan dalam hidupnya tanpa khawatir menjadi anak yang durhaka karena melawan keinginan orang tua, semuanya disajikan dalam porsi sangat minim dan hampir dianggap “angin lalu”. Kurang membekas.
Penonton mungkin lebih ingat celoteh Tumming dan Abu daripada pesan penting yang menjadi inti cerita ini.
Tekad Ancha untuk mempertahankan harga dirinya sebagai putra Bugis Makassar pun terlihat kurang gigih, dengan hanya bergantung pada uang gajinya saja.

Saya bukanlah pengamat film, apalagi kritikus film. Saya hanya tahu menonton film dan menikmatinya.
Dan beberapa scene pada film ini terasa mengganggu. Akting pemain yang kurang natural, membuat kita sadar bahwa ini beneran film, dibuat-buat, hampir mirip sinetron #ehh
*atau mungkin ini cuma perasaan saya saja yah? 😁

Lalu beberapa alur cerita yang sepertinya “miss“. Kenapa Risna tidak kaget tasnya ada pada Ancha, bagaimana para rekanan atasan Ancha bisa menyumbang untuk Ancha padahal mereka belum tahu untuk siapa sumbangan itu, lalu jumlah uang pada cheque yang tidak sesuai dengan yang dicairkan. Plus komentar penonton di sebelah saya yang memprotes karena tidak satu sen pun gaji Ancha berkurang baik itu untuk transport dan makan, padahal dalam cerita beberapa kali ia pergi ke tempat makan “mewah” dan warung kopi, lalu apa pentingnya menghadirkan Katon Bagaskara dan Jane Shalimar? 🙈

Oiya, satu hal lagi… film ini ditujukan untuk Remaja (13+) tapi jujur saja, jika anak saya yang berusia 13 tahun berbicara menggunakan kata-kata ledekan yang sering diucapkan Tumming dan Abu dalam film ini, saya mungkin sudah menghukumnya ☺️

Meski demikian, secara keseluruhan, film karya anak-anak muda Makassar ini bisa dibilang keren. Tapi mengingat nama-nama yang bekerja di balik layar, film ini harusnya bisa lebih keren lagi, karena kualitas dan kinerja mereka jauh di atas ini.

*dan semoga ini tidak terhitung spoiler 🙈

7 Comments

  1. lia
    lia

    jadi tambah penasaran nontonnya

    August 28, 2016
    |Reply
  2. 1 kalimat yang bikin saya sejak awal tidak terlalu tertarik untuk menonton film ini ada dlm tulisan Ama…
    “Akting pemain yang kurang natural”

    Makanya saya hanya memilih untuk membaca sinopsisnya saja…

    August 29, 2016
    |Reply
  3. alfulaila
    alfulaila

    Saya penasarannya sama scene yang menganggu:D

    August 29, 2016
    |Reply
  4. Agak spoiler sih, tapi bolehlah ‘ mengompori’ orang lain untuk membuktikan review anda.

    Deuh.. Anda.. hahahaha

    August 29, 2016
    |Reply
  5. pengen ku mi nonton
    dan pengenku review ki jua
    hahaaahahha

    August 30, 2016
    |Reply
  6. Wah anda sudah membuat review ini dengan baik kak! saya jadi penasaran.

    Hahaha

    August 31, 2016
    |Reply
  7. Ida Basarang
    Ida Basarang

    Tambah penasaran… Mau pake tiket gretonganku dehh

    September 2, 2016
    |Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *