Skip to content

Dilan 1991

Posted in Movie, and Review


DILAN 1991
source : 21cineplex.com

Seketika saya menepuk jidat membaca berita bahwa segelintir -katanya- mahasiswa melakukan demo, menolak pemutaran film Dilan 1991 di Makassar. Menurut mereka, film ini tidak sesuai dengan adat budaya ketimuran. 

Mereka bahkan menuntut pencabutan izin operasi bioskop XXI di Makassar.

Lah?

Mirisnya lagi, mereka demo sampai merusak mockup film Dilan yang diletakkan di depan salah satu bioskop di Makassar. 

Heh?

Lucu sih, demo mereka lakukan di hari pertama penayangan film Dilan 1991, sebelum jam tayang pertama, yang artinya mereka bahkan belum nonton film ini. Yaelah.

Nonton belum, paham kagak, anarkis iya. 

Balik ke Dilan 1991, menurut saya ini lebih cocok disebut “pengulangan yang diperkuat”, dibanding sebagai sekuel. Yap, kalo udah nonton Dilan 1990, maka Dilan 1991 ini tidak jauh melangkah. Tentu saja karena jika di Dilan 1990 bercerita tentang proses pedekate Dilan pada Milea, maka Dilan 1991 ini adalah cerita mereka yang sudah resmi “jadian”.

Meski demikian, alur cerita Dilan 1991 jauh lebih kuat. Milea bukan lagi perempuan pasif. Dia sudah menunjukkan “apa maunya dia”. Kemauan kuat yang kemudian dianggap Dilan sebagai “kekangan”.

Seorang remaja putri yang cantik, yang punya banyak penggemar, memilih jatuh cinta pada “bad boy”. Sounds familiar?

Ya, memang begitulah kejadian kebanyakan. 

Milea tidak memilih Adi, guru les privat yang selalu ingin terlihat penuh perhatian, bahkan sok peduli dan berusaha masuk ke hidup Milea lewat paman Milea.

Milea juga tidak memilih Yugo, sepupu jauh yang sudah lama tinggal di luar negeri, yang menurut saya penampilannya psikopat banget deh. Hehehe.

Milea memilih Dilan. Anak muda cakep, cuek, anggota geng motor, tapi romantis dan selalu bisa membuat hati Milea berbunga-bunga. Dilan ga segan berbuat kasar pada orang lain tapi selalu tampil penyayang bagi Milea. Di mata Milea, Dilan adalah cowok jantan. Di mata saya juga.. #ehh

Keduanya memang tampak sangat serasi. Kedekatan Milea pada keluarga Dilan, dan begitu pula sebaliknya, membuat mereka seperti “jodoh” yang tak mungkin dipisahkan lagi.

Tapi di sinilah konflik bermula. Dan inilah inti dari film ini. Konflik yang membuat film ini menjadi lebih hidup.

Milea, seperti kebanyakan perempuan di muka bumi ini, punya seribu satu kekhawatiran. Dan atas nama “sayang”, tanpa sadar Milea merasa paling tahu apa yang terbaik bagi Dilan. 

Sementara Dilan, seperti semua lelaki di muka bumi ini, tentu saja tak ingin dibatasi gerak-geriknya. 

Konflik ini pula yang membuat kita tetap penasaran dan betah menonton film sampai akhir untuk mengetahui bagaimana akhirnya? 

Dari sisi cerita, bagi remaja jaman now, Dilan 1991 mungkin dianggap cerita alay, norak, ga banget.

Tapi bagi mereka yang melewati masa remaja di tahun 90an, cerita ini mampu menarik kenangan masa lalu, kemudian berakhir dengan senyum malu-malu. 

Gombalan-gombalan receh tapi ngena, gestur tangan pengganti ciuman, hubungan persahabatan, dan juga guru sok cakep yang bikin ilfil, begitulah kehidupan remaja dan gaya pacaran jaman dulu.

Yang jalan kaki aja udah romantis. Ditelepon si dia aja dah bikin melayang…

Dan kalian yang mendemo film ini, pasti belum lahir saat itu.

Bagi saya pribadi, film yang mampu meraih 3.107.000 penonton (khusus penonton di jaringan bioskop XXI) sampai hari ke-5 penayangannya ini, adalah sebuah film yang patut diberi pujian “great job!”.

Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla kali ini benar-benar mampu mempermainkan emosi penonton.

Meski terdapat bagian kecil yang mengganggu, seperti satu adegan saat Milea memanggil ibunya dengan “bunda”, panggilan yang seharusnya untuk ibunya Dilan, juga penempatan sponsor film yang agak janggal (tiba-tiba ada iklan provider seluler padahal telepon genggam belum ada waktu itu), overall film ini bukanlah film yang b aja, meski bagi saya belum bisa disebut keren banget 😀

Eh, sepertinya bakal jadi keren kalo Dilan 1990 dan Dilan 1991 digabung aja jadi satu film.

Dan film ini pun akhirnya bikin saya kangen sama Bandung, yang sekarang udah beda banget sejak ada kamu, apalagi nanti kalo Pojok Dilan udah jadi. So, saya ngasih 6.5 out of 10.

*halah, sok ala kritikus pelem 😛

Ps: 

Di film ini Milea baca majalah jaman dulu. Jadi ingat, dulu saya juga suka baca Gadis, Anita Cemerlang, Kawanku, Hai, bahkan majalah Kartini ^_^

Paling suka sih kalo dapat hadiah poster.

Kalo kamu?

19 Comments

  1. keren ulasannya
    sayangnya saya belum nonton, dan mgk belum berniat nonton dalam waktu dekat (nda ada bioskop di sini yang putar) hehehe

    film milenial mmg menyasar anak milenial. ya tema2nya yang lagi gandrung disukai mereka.

    March 10, 2019
    |Reply
  2. Hei, 6,5 ji Ama? Ndak salah? Baca semuanya saya kira Ama mau kasih 8 😀

    Layak diacungkan jempol bisa meraup penonton sangat banyak ya.
    Kalau tentang kontennya, hm … yang jelas pasarnya ada. Dan mungkin kalo ada Dilan-Dilan selanjutnya masih ditunggu para fans-nya 😀

    March 10, 2019
    |Reply
  3. Chimot
    Chimot

    Waaah kak ama anak 90 an yaaaah. Wuiiih. Hormat senior. Saya angkatan 2000an kanda . *mau di lempar oleh oleh…

    March 10, 2019
    |Reply
  4. Wow, ulasannya mantul! Jadi nonton Dilan berapa kali nih ? Hahaha

    March 10, 2019
    |Reply
    • ama
      ama

      baru sekali teh… tapi soklah kalo mau ditemani nonton ;D

      March 11, 2019
      |Reply
  5. sa belum nonton yg ke 1 apalagi yg ke 2. nda gaul bgt yaa

    March 10, 2019
    |Reply
    • ama
      ama

      jangan terlalu sibuk kak, kesehatanmu loh…

      March 11, 2019
      |Reply
  6. Bacaan kita sama, Kak. Majalah gadis, aneka yes, dan sejenisnya menjadi bacaan wajib yang dibeli dari tabungan uang jajan sekian hari. Kalo kali ini saya yang beli. Dua Minggu ke depan, temenku lagi yang beli. Baku pinjam-pinjam. Dan artikel yang paling dinanti apa? Zodiak Minggu ini. Hahahaha..

    Eh, saya kok gak komen tentang Dilan?

    March 11, 2019
    |Reply
  7. Mwnueut saya Dilan ini sebuah masterpieces. Saya bukan penikmat novelnya Dilan, tapi dengan menonton filmnya Dilan 1990 dan 1991 kemarin saya merasa seperti sedang membaca novelnya juga sekaligus. Menurut saya film ini sanhat epic apalagi pemerannya sepertinya pas betul memerankan Dilan dan Milea ini. Merwka seperti sosok yang benar2 hidup di rwalitas.

    March 11, 2019
    |Reply
  8. Kalo saya iya di mata ta bgmnaa hahahaa…

    Btw sy jg tdk trlalu suka dengan karakter yugo yg tiba2 dtg dan tiba2 hilang hahaha

    March 11, 2019
    |Reply
  9. saya menunggu sekuel ‘Milea’ yang konon Milea akan diperankan oleh, tebak siapa?, Sissy alias Milly my love..

    March 11, 2019
    |Reply
  10. Sepertinya film dilan ini menarik sekali yah sampai bisa mencapai jutaan penonton dalam waktu singkat. Kayanya saya harus nonton deh 🙂

    March 11, 2019
    |Reply
  11. 6.5/10? Wow… sedikit sekali ya? Hahaha.

    Ada hal yang lucu yang saya temukan dari review teman-teman Makassar untuk film ini. Dari semua review yang saya baca, semuanya mengaitkan film Dilan ini dengan demo sebagian kecil mahasiswa itu.

    Demonya berhasil menebeng kesuksesan film Dilan kayaknya hahaha

    March 11, 2019
    |Reply
    • ama
      ama

      Hihihi… iye, cuma kasi 6.5 karena hampir setengah film isinya adegan yang tidak mengubah apapun, hanya mengulang cerita di film sebelumnya. Mungkin maksudnya biar yang tidak nonton Dilan 1990 bisa paham.

      Hahaha iya, demonya teringat terus. Kinjengkel bela -_-

      March 12, 2019
      |Reply
  12. Belum pernah nonton film dilan 1990, apalagi yang 1991 tapi kalau bukunya sudah sih. Jadi ingat waktu pertama kali baca novelnya saya heboh banget koar-koar di medsos karena emang novelnya kece abizz tapi eh tapi gak tau kenapa pas novelnya menjelma film di bioskop saya malah tidak or belum tertarik nonton. Tapi karena banyak teman2 yang review film Dilan ini (termasuk ulasan kak Ama di atas) saya jadi penasaran deh.

    March 12, 2019
    |Reply
  13. Film Dilan itu sebenarnya cocok sekali ditonton mreka generasi SMA Tahun 90an. Karena suasana filmnya pasti bikin nostalgia banget buat kk kk yang SMA tahun sgitu. Cuman malah yg nonton kebanyakan anak zaman now. Yang sebenarnya gk bisa nostalgia apapun masa itu hehe

    March 12, 2019
    |Reply
  14. Saya belum sempat nonton film Dilan 1991 ini. Hebat juga yaa baru beberapa hari sudah meraup jutaan penonton. Tapi saya pribadi sih ndak penasaran penasaran amat pengen nonton, soalnya sudah tamat baca bukunya. Paling ceritanya sedikit banyak miripji di buku. Hehehe

    March 12, 2019
    |Reply
  15. Ayi
    Ayi

    Target pasarnya Dilan ini sepertinya lebih ke ABG ABG pada zamannya deh, hahaha. Paling tidak kalau ceritanya nda masuk, nuansa nostalgianya masih bisa dapat. Terus kebaperan deh, hahaha.

    March 12, 2019
    |Reply
  16. Kalau dari film Dilan1990 atw 1991 saya suka liat kata-kata romantis nan lucu itu,klw di 1990 twntang rindu itu berat..klw di 1991 ,ada kata yg pling saya ingat :
    ” PR-ku adalah merindukanmu. Lebih kuat dari Matematika. Lebih luas dari Fisika. Lebih kerasa dari Biologi.”
    -Dilan

    Wkwk..

    March 12, 2019
    |Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.